“We teknologi yang benar berkualitas dan bermanfaat perlu

“We don’t use technology,
we live technology,” demikian penggalan kalimat yang
menggambarkan manusia terhadap perkembangan teknologi saat ini. Setiap tahun
kita disuguhi dengan banyak inovasi baru, mulai dari perangkat virtual reality, tablet hybrid hingga pada teknologi penyimpanan
awan. Teknologi seolah tidak bisa lepas dari setiap aktivitas manusia, hal ini
ditandai dengan merambatnya teknologi hingga ke berbagai aspek kehidupan mulai dari e- learning pada pendidikan, aplikasi photoshop pada seni dan budaya, hingga facebook pada aspek sosial. Pada tahun
2017 teknologi aritificial intelligent semakin
berkembang, salah satunya adalah mobil tanpa awak. Belakangan ini permbincangan
mengenai invensi mobil tanpa awak ini atau yang lebih dikenal dengan autonomous car banyak memenuhi portal
berita. Mobil yang mampu beroperasi
tanpa input manusia ini banyak menuai pro dan kontra. Meskipun dibekali dengan
banyak teknologi  pendukung seperti
radar, GPS, sinar laser dan penglihatan komputer, autonomus car masih kurang efisien untuk digunakan. Oleh karena itu
untuk memperoleh teknologi yang benar berkualitas dan bermanfaat perlu
pengkajian mendalam terhadap kapabilitas mobil tak berawak sebelum
diperkenalkan kepada masyarakat umum.

Manik
Sukoco (2017) melaporkan survey yang dilakukan oleh The World Economic Forum
mengenai sikap konsumen mengenai mobil tanpa awak, 58% responden berminat untuk
menaiki mobil ini, namun hanya 35% yang membiarkan anak mereka untuk
menggunakan mobil ini sendirian. Hal ini 
membuktikan bahwa hambatan utama dalam pengembangan mobil ini adalah
penerimaan konsumen dan teknologi itu sendiri. Pada kondisi tertentu, teknologi
ini akan dihadapkan dengan keputusan yang berpotensi mengancam jiwa dan dalam
titik ini mesin tidak sama dengan manusia yang memiliki etis dan moral. Hal
inilah yang selanjutnya akan membawa kita pada masalah-masalah yang lain
seperti dalam penelitian Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengenai
kemungkinan mobil tanpa awak ketika dihadapkan dengan skenario dimana mobil
yang harus berhadapan dengan pejalan kaki yang sedang menyembrang jalan. Jika
mobil tidak berubah arah, maka pejalan kaki bisa tewas tertabrak, namun
sebaliknya jika berubah arah, mobil akan memungkinkan menabrak pejalan kaki di
ruas jalan lainnya. Dan jika terjadi kecelakaan, pihak yang disalahkan dalam
konteks ini perlu dipertanyakan.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 Yang menjadi kendala lain yang patut juga diperhatikan
ialah pada algoritma autonomous car itu sendiri. Algoritma yang
digunakan untuk beroperasi masih kurang efisien untuk menghadapi kondisi-kondisi
seperti yang telah digambarkan dalam penelitian MIT. Di dalam artikelnya, Hala
Baksh berpendapat bahwa Human Machine
Interface pada mobil ini sebaiknya dapat mempertimbangkan kapan pengendara
dapat mengambil alih kemudi, dengan begitu resiko kecelakaan dapat
diminimalisir. Mobil ini juga mau tidak mau akan menghadapi situsi seperti
dalam kondisi cuaca buruk, atau bahkan  berada
dalam GPS yang salah. Selain itu, algoritma mobil ini juga harus mampu
melindungi data pengguna, maraknya peretasan yang dilakukan oleh pihak yang
tidak bertanggung jawab juga menjadi landasan perlunya sistem keamaanan yang
tinggi untuk mobil ini. Lebih lanjut, eksistensi mobil ini bisa menjadi berita
baik untuk teroris. Bisa saja teroris menggunakan teknologi baru ini untuk
menaruh ledakan di dalamnya. FBI telah mempelajari bagaimana seorang kriminal
melakukan aksinya tanpa harus berada di tempat kejadian.

Autonomus car
memiliki dampak negatif terhadap efisiensi bahan bakar. Dikutip dari laporan
baru Bloomberg, hal ini disebabkan
karena kapasitas bahan bakar yang digunakan sensor dan komputer di dalam mobil
ini sangat besar. Disaat teknologi automaker
menunjukkan banyak perkembangan dalam mengurangi penggunaan bahan bakar, mobil autonomus car justru sebaliknya, mobil
ini dilengkapi kamera dan sensor radar, sistem yang terdapat di dalamnya jelas
membutuhkan banyak energi lagi (Stephen Edelstein, 2017)

Jika
penggunaan mobil tanpa awak juga diterapkan pada lingkup pemerintahan, hal ini
dapat menyebabkan banyaknya pekerja yang kehilangan pekerjaannya. Setidaknya
3.5 juta penduduk Amerika Serikat bekerja dalam sektor transportasi (Brian
Strassburger, SJ, 2017). Jika autonomous
car digunakan sebagai penunjang sarana transportasi umum, bagaimana nasib
para pekerja yang memenuhi kebutuhan hidup mereka sebagai pengemudi. Dalam hal
ini, penggunaan mobil tanpa awak berpotensi mengurangi lapangan pekerjaan.

Penggunaan
mobil tanpa awak atau autonomous car
masih perlu dipertimbangkan, banyaknya kendala yang ditimbulkan karena
teknologi ini menjadi alasan utama perlunya evaluasi mendalam pada teknologi
ini. Seperti pada moral dan etik autonomous
car ketika dihadapkan dengan kondisi yang hanya manusia yang dapat
mengatasinya—untuk sekarang ini, atau pada efisiensi penggunaan bahan bakar pada
mobil ini, juga nasib para pekerja driver
mobil konservatif hingga pada pemrograman algoritma dalam teknologi ini guna
menghadapi kemungkinan terburuk seperti peretasan sistem mobil. ada banyak standar yang perlu dipenuhi
dalam kapabilitas teknologinya sebelum dibawa ke muka masyarakat. Kesiapan
konsumen juga perlu diperhatikan, terlebih kepada produsen sebagai penyedia
teknologi yang harusnya dalam pengembangan teknologi ini lebih menitik beratkan
pada moral dan etik yang selama ini menjadi momok perdebatan. Pada akhirnya, autonomus car tidak berbeda dengan
teknologi pada umumnya, memiliki dampak positif dan juga negatif, kita
kembalikan lagi pada sudut pandang setiap orang yang melihatnya, mobil ini bisa
saja diaplikasikan dalam lingkup yang kecil, namun untuk lingkup yang besar,
masih perlu pertimbangan.