Rivalitas ekonomi dunia harus disadari telah membentuk kembali

Rivalitas Superpower Ekonomi di tanah Afrika:

“China as the new leader in Africa”

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

oleh Kimberly Tumbuan

170210140056

PENDAHULUAN

Pasca Perang Dunia II, tatanan internasional diwarnai oleh perkembangan paham ekonomi liberal, diiringi dengan pertumbuhan industri dan proses liberalisasi pasar yang dicanangkan AS beserta Eropa Barat dan Jepang, Dalam kancah perekonomian internasional, upaya AS tersebut dikukuhkan dengan membentuk rezim perekonomiannya dimulai dengan sistem Bretton Woods (1944-1976), di mana AS pada saat itu memiliki peran penting dalam membentuk tatanan perekonomian internasional baru. Organisasi-organisasi internasional yang diinisasi hasil lanjutan dari konferensi Bretton Woods tersebut seperti: WTO (World Trade Organization), World Bank , dan IMF (International Monerary Fund) telah menjadi aktor utama yang berperan penting dalam mengatur perekonomian internasional (Keohane, 1984: 141-142). Sehingga kepemimpinan AS dalam membentuk tatanan dan rezim perekonomian internasionalnya berperan penting dalam menjadi roda utama perekonomian dunia.

Berakhirnya Perang Dingin pada tahun 1991 mewarnai tatanan internasional dengan hegemoni Amerika Serikat (AS) yang semakin kokoh dan menjadi satu-satunya negara adidaya dalam konstelasi ekonomi politik internasional, terbukti dengan AS menjadi negara dengan penghasil GDP (Gross Domestic Product) terbesar dan mata uang AS (dolar) menjadi alat tukar utama dalam perdagangan internasional. Akan tetapi hegemoni AS, khususnya dalam memimpin politik ekonomi global, diyakini oleh para ahli1 mulai memudar memasuki abad ke-21, dimana Cina mulai bangkit dan melebarkan sayapnya hingga keluar benua dan memiiki kekuatan ekonomi versinya sendiri, yang dikenal dengan ‘Chinese Economy Model’. Adapun kebangkitan Cina tersebut tentunya memberikan dampak yang besar terhadap hubungan kekuatan dalam perekonomian global sekaligus menantang hegemoni ekonomi AS. 

Kebangkitan Cina yang kemudian menjadi kekuatan ekonomi dunia harus disadari telah membentuk kembali panorama dari realitas ekonomi dan politik global. Hal tersebut diyakini terjadi, saat Cina ‘bangun’ pada tahun 1979 dengan program Reformasi Ekonomi yang dicanangkan oleh Deng Xiaoping. Saat ini Cina telah mendapat rekognisi internasional akan posisinya sebagai kekuatan dunia baru setelah Amerika Serikat. Dalam bidang ekonomi, Cina pun berpotensi menggantikan Amerika Serikat sebagai pemain utama dalam memimpin pertumbuhan ekonomi global. Pengakuan internasional akan Cina lahir karena Cina tidak segan-segan melebarkan sayapnya hingga keluar benua Asia, salah satunya yaitu benua Afrika.  Peran Cina di Afrika pada saat ini telah menempatkan Cina sebagai partner dagang maupun pendonor utama di benua tersebut, pun hal ini dinilai Barat sebagai bentuk neokolonialisme atau eksploitasi baru. Hasilnya, peran Eropa dan Amerika yang tampak jauh dan samar-samar, semakin dibayangi oleh kekuatan Cina. Hal tersebut pun dianggap sebagai tantangan baru bagi Amerika yang memunculkan rivalitas negara adidaya di benua Afrika.

Hubungan Afrika dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat

Hubungan Afrika dan Barat khususnya Eropa sudah terjalin sejak masa penjajahan, dimana Prancis merupakan kekuatan utama yang berkuasa secara luas di Afrika, yaitu mulai dari Maghreb ke sub-Sahara. Meskipun pada awal 1960-an bentuk-bentuk penjajahan mulai ditiadakan namun tentunya Perancis tetap memiliki pengaruh yang besar di benua tersebut. Prancis tetap berusaha mempertahankan pengaruhnya di Afrika baik melalui hubungan politik, budaya, ekonomi dan pendidikan. Pasca berakhirnya kolonialisasi Eropa terhadap Afrika, hubungan Uni Eropa (UE) dengan Afrika semakin menguat. Salah satunya melalui Join Africa-EU Strategy (JAES), yang merupakan strategi bersama antara Uni Eropa dan Afrika yang diadopsi oleh 80 negara Uni Eropa dan Afrika pada Konferensi Tingkat Tinggi Lisbon tahun 2007. Kemitraan Afrika-Uni Eropa ditingkatkan melalui strategi bersama tersebut yang mencakupi kerangka politik yang mendefinisikan hubungan bilateral antara kedua kawasan. Dalam rencana bersama untuk periode 2014-2017, KTT yang dilaksanakan di Brussel memfokuskan kerjasama di lima bidang strategis, yaitu perdamaian dan keamanan, demokrasi, pemerintahan yang baik dan hak asasi manusia, perkembangan manusia, pembangunan dan pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif serta integrasi continental, isu global dan muncul. Agenda ini selanjutnya didukung oleh program Afrika pertama dengan dimensi continental yaitu sebagai Program Pan-Afrika dengan pendanaan sebesar 845 juta EUR, untuk periode 2014-2020 di bawah instrumen kerjasama pembangunan (European External Action Service, 2016).

Dalam perihal hubungan dagang, UE telah menjadi partner dagang Afrika terbesar selama bertahun-tahun. UE juga pernah menjadi partner dagang utama Afrika yang mendominasi pasar Afrika. Meskipun demikian, UE sendiri memprediksi terjadinya penurunan aktifitas perdagangan antara kedua kawasan. Menurut UE hal ini disebabkan karena pada periode 2015-2050, Afrika diproyeksikan mencapai lebih dari setengah pertumbuhan populasi dunia (2,5%), sedangkan angka setara untuk UE-28 tidak lebih dari 0,1%. Hasilnya adalah bahwa pangsa EU-28 di populasi dunia harus terus turun dari 8% di tahun 1995, 7% di tahun 2015 menjadi 5% pada tahun 2050 (Eurostat, 2017).

Sedangkan, Amerika Serikat pada masa Perang Dingin menjadikan Afrika sebagai salah satu benua untuk pelebaran lingkup pengaruhnya (sphere of influence) dalam melawan Uni Soviet. Setelah Perang Dingin berkahir, hubungan AS dan Afrika pun tidak mendalam, istilah ‘retreat from Africa’, dimulai dengan penarikan diri AS dari Somalia pada awal tahun 1994.   Selanjutnya Presiden Clinton melalui Keputusan Presiden Directive 25 (PDD 25) berupaya membatasi misi U.N. di Afrika, terutama dalam partisipasi AS di sana (Lawson, 2007). Dalam hubungan perdagangan AS juga bukan merupakan partner utama Afrika. Pengecualian terdapat pada Afrika Selatan yang memiliki hubungan yang erat dengan Amerika Serikat baik dalam hal diplomasi maupun perdagangan.

Hubungan Sino-Afrika

Hubungan Cina dan Afrika dimulai pada saat Cina mulai membangun hubungan berplandaskan ideologi yang sama negara-negara Afrika pada tahun 1950an. Motivasi dibalik terbentuknya hubungan antara Cina dan Afrika terjadi tepat setelah runtuhnya kolonialisme dan negara-negara Afrika mulai membebaskan diri dari jajahan mereka. Di sisi lain, keadaan dunia yang terpusat pada Amerika Serikat setelah masa Perang Dingin tidak memberikan harapan pada Afrika. Negara-negara Afrika terpukul dengan Washington Consensus yang identik dengan perekonomian gaya Barat yang dinilai malah mendorong kebanyakan negara berkembang menjadi semakin miskin dengan membatasi peran negara dan mencegahnya terjadinya keadilan sosial. Konsensus tersebut dianggap seakan-akan memaksa negara-negara Afrika yang baru saja merdeka dan masih perlu membenahi kondisi dalam negeri untuk bersaing dengan negera-negara Barat yang telah berkembang. Negara-negara Afrika kemudian mulai mencari alternatif lain.  Pada saat yang sama Cina yang sedang membuka diri membawa alternatif lain yaitu Konsensus Beijing atau disebut juga Model Ekonomi Cina ke Afrika dibawah keadaan dunia yang unipolar pasca Perang Dingin berakhir. 

Pada tahapan awal hubungan Cina dan Afrika, Cina murni memberikan dukungan kepada gerakan-gerakan pembebasan yang menjadi momentum kemerdekaan negara-negara Afrika dari para penjajah. Namun semakin semaraknya hubungan Cina dan Afrika, motivasi awal Cina mulai berubah, baik Cina dan Afrika pun membangun hubungan dalam bidang ekonomi dan politik. Sebuah pergeseran yang besar terjadi sekitar awal tahun 1980. Motivasi Cina yang kini berubah menjadi kepentingan ekonomi dan geostrategis menjadi motor utama yang mendorong hubungan Cina saat ini dengan Afrika, dibandingkan keinginan untuk mengekspor filsafat politik tertentu (Berhe dan Hongwu, 2013: 1). Kerjasama Cina-Afrika pun berkembang hingga saat ini, Cina yang berada di bawah masa pemerintahan Xi Jinping (2013-sekarang) semakin yakin untuk melakukan kerjasama dengan Afrika, hal ini terbukti pada tahun 2015 silam Cina berjanji memberikan 60 miliar dolar untuk membantu pembangunan Afrika melalui Forum Kerjasama Cina-Afrika  (Forum on China-Afrika Cooperation) terbaru yang dilakukan di Johannesburg (Onishi, 2015). Hubungan Cina-Afrika tersebut pun berpusat pada kerjasama keuangan, bantuan, kesehatan, pendidikan dan perdagangan, terbukti dengan kenyataan bahwa Cina merupakan mitra dagang dan pendonor bantuan terbesar Afrika. Namun sekali lagi, semakin kuat kemitraan Cina-Afrika, dapat terlihat pula perubahan sikap Cina. Pada awalnya Cina berkomitment pada kerjasama ekonomi dan pembangunan, Cina kemudian mulai aktif memberikan bantuan militer melalui operasi peacekeeping, seperti keikutsertaan Cina pertama kali dalam operasi  peacekeeping di Cyprus pada tahun 1981 melalui voting ‘Yes’ yang diberikannya dan kontribusi tentara Cina pertama kali di Nambia pada tahun 1988 (Berhe dan Hongwu, 2013: 4). Hal tersebut terus berlanjut hingga saat ini Cina telah mendirikan pangkalan militer di luar negeri pertamanya yang berada di Djibouti di Tanduk Afrika (Blanchard, 2017).

 Peran Forum on China-Africa Cooperation (FOCAC) dan Institusi Keuangan & Perdagangan Cina di Afrika

Keterlibatan Cina yang terus menguat di kawasan tersebut dan respon baik yang diberikan Afrika kepada Cina, menghasilkan terbentuknya Forum Kerjasama China-Afrika (Forum on China-Africa Cooperation , disingkat FOCAC) di awal abad ke-21. Forum on China-Africa Cooperation (FOCAC) merupakan konferensi tingkat tinggi (KTT) diplomatik yang telah diadakan setiap tiga tahun sejak Oktober 2000. Forum tersebut adalah suatu bentuk inisiatif utama yang diambil untuk mempromosikan persahabatan dan kerjasama yang telah dibangun oleh Cina dan Afrika sejak dahulu. FOCAC menjadi suatu platform penting dan mekanisme efektif untuk melakukan dialog kolektif, bertukar pengalaman dalam pemerintahan dan meningkatkan saling percaya dan kerjasama dalam hal praktis antara Cina dan Afrika. Sejak saat itu, FOCAC pertama kali dilaksanakan di Beijing pada tahun 2000, kemudian di Addis Ababa pada tahun 2003, selanjutnya FOCAC III & V (2006 & 2012) dilaksanakan di Beijing, FOCAC IV dilaksanakan di Mesir pada tahun 2009 dan terakhir di yaitu pada tahun 2015 dilaksanakan di Johannesburg.

Akan tetapi, FOCAC sebagai sebuah platform tidak hanya menyediakan mekanisme diplomatik unik untuk mempromosikan dialog antara Cina dan Afrika, lebih daripada itu, FOCAC juga memfasilitasi pembangunan dari agenda politik dan ekonomi yang sama di mana akan mendukung konstruksi kerja sama Selatan-Selatan untuk keuntungan bersama (Selton and Paruk, 2008:2). FOCAC menjadi sebuah arena dan kerangka untuk mengembangkan kerjasama Sino-Afrika dalam sistem internasional yang semakin mengglobal. Melalui FOCAC, Cina telah membatalkan utang Afrika, mefasilitasi akses pasar yang sedang berkembang, dan menyediakan kesempatan-kesempatan baru untuk keterlibatan positif dalam perdagangan global. Begitupula sebaliknya Afrika telah memberikan lahan perekonomian yang besar bagi Cina.  Selain itu, dalam naungan platform ini Cina juga membangun rezim moneter dan keuangan internasionalnya, yaitu melalui institusi moneter seperti People’s Bank of China dan institusi pendanaan seperti Bank Ekspor Impor Cina (China Exim-bank), China-Africa Development Fund (CADFund), China Development Bank (CBD), dan Agriculture Bank of China (ABC) (Shelton & Paruk, 2008: 73). Sedangkan FOCAC itu sendiri telah menjadi platform yang kuat dalam memberntuk rezim perdagangan Cina di Afrika.

Kini FOCAC telah berjalan selama tujuh belas tahun dan telah sampai pada KTT Johannesburg yang menjadi Konferensi Tingkat Menteri ke-6 FOCAC yang dilaksanakan pada 3 hingga 5 Desember 2015.  di bawah pemerintahan Xi Jinping, Cina berkomitmen pada tahun 2015 bahwa akan membantu industrialisasi, modernisasi pertanian, dan investasi dalam keamana dan perdamain dengan mengucurkan dana sebesar enam puluh miliar dolar (Onishi, 2015). Hal tersebut menjadikan Cina sebagai partner dagang dan pendonor utama di Afrika.

Kemenangan Cina di tanah Afrika

“The Hopeless Continent” merupakan judul dari sampul majalah The Economist pada tahun 2000, dimana judul tersebut diperuntuhkan bagi Afrika. Dalam artikel majalah tersebut terdapat ditulis bahwa Afrika tidak dapat diraih dan ditakdirkan untuk masa depan yang suram dan terpuruk karena pemerintah maupun lembaga sosial yang buruk dan korup. Akan tetapi saat ini terdapat bantahan yang menarik karena benua Afrika pada saat ini telah menjadi pusat kepentingan strategis adidaya yang meningkat dari timur yaitu Cina, yang menantang kekuatan lama dari Barat yaitu Amerika Serikat.

Peningkatan aktifitas ekonomi Cina di Afrika dipandang para pebisnis dan pemerintah AS sebagai ancaman utama bagi kepentingan AS di lapangan. Padangan Barat akan investasi langsung dan bantua Cina ke Afrika sering dikatakan sebagai bentuk neokolonialisme dan hanya eksploitasi. Barat melihat keterlibatan Cina di benua tersebut jelas untuk mendapatkan kepentingan Cina semata dan bukan sebagai tindakan altruism, sebagaimana yang sering dikatakan Cina. Namun, kritikan-kritikan tersebut tidak dapat dibuktikan secara lantang melihat bagaimana Cina menjadi begitu sukses di Afrika (Berhe & Hongwu, 2013), bahkan diakui oleh berbagai kepala pemerintahan dari berbagai negara-negara di Afrika, salah satunya di Nigeria. Aliansi politik Cina dengan Nigeria berasal dari awal berdirinya hubungan diplomatik dengan Lagos pada tahun 1971. Hingga saat ini hubungan Cina menjadi sekutu politik penting dan pasar untuk minyak Nigeria.

Harus diakui Barat telah lama mengabaikan Afrika, jika di masa lalu Barat memang mendominasi bahkan monopoli Afrika sebagai partner pemasukan uang dan teknologi, bahkan itu pun karena Afrika tidak memiliki pilihan lain selain berdagang dengan mantan koloninya. Namun kini, Cina hadir tanpa memperlakukan Afrika sebagai mantan budaknya dan memberi alternatif pada negara-negara Afrika dengan tawaran untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri negara-negara di Afrika (Kuo, 2016). Cina pun yang semakin menguat posisi di AFRIKA mulai mengembangkan kekuatan militernya, dimana hal ini menjadi penting karena dalam ekonomi politik dunia terdapat peranan penting dari kekuatan militer untuk mendukung perekonomian suatu negara. Sebuah negara yang kuat harus memiliki cukup kekuatan militer untuk dapat melindungi ekonomi politik internasional yang didominasi dari musuh dan serangannya. Sebaliknya, perekonomian yang maju dapat mendukung kekuatan militer negara tersebut untuk mencegah atau menolak usaha yang mencoba untuk menutup daerah-daerah penting dalam ekonomi politik dunia.

Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bagi Barat untuk melanjutkan komitmennya dalam membangun hubungan dengan Afrika. Meski Cina telah membangun posisi yang kuat di benua Afrika pada saat ini sebagai mitra dagang terbesarnya, Barat tetap dapat mempertahankan keuntungan utama yang sejak awal sudah dibangun di Afrika seperti memiliki ikatan politik dan keamanan yang kuat, sebagai negara yang mentransfer teknologi, dan produk-produk global lainnya yang belum dikembangkan oleh Cina. Meskipun demikian tentunya hal tersebut tidak dapat menjamin posisi Barat di Afrika, faktanya, Cina terus menguat hingga hari ini dan berambisi untuk menjadi negara yang seutuhnya memenangkan hati Afrika (Ighobor, 2013). Oleh karena itu, menjadi hal yang perlu diperhatikan bagi Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya mulai menilai kembali sikap dan hubungan mereka dengan benua Afrika yang semakin menonjol di masa depan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi

Berhe, M. and Hongwu, L. (2013). China-Africa Relations: Governance, Peace, and Security. Ethiopia: China-Africa Think Tanks Forum.

Breslin, S. (2007). China and the Global Political Economy. Houndmills: Palgrave Macmillan.

Eurostat. (2016). Africa-EU – key statistical indicators – Statistics Explained. online Available at: http://ec.europa.eu/eurostat/statistics-explained/index.php/Africa-EU_-_key_statistical_indicators Diakses 7 Jan. 2018.

EEAS – European External Action Service. (2016). Africa and the EU – EEAS – European External Action Service – European Commission. online Available at: https://eeas.europa.eu/headquarters/headquarters-homepage/328/africa-and-eu_en Diakses 7 Jan. 2018.

Galvin, G. (2017). ‘America First’ May Put Africa Last. online US News. Available at: https://www.usnews.com/news/best-countries/articles/2017-07-18/the-us-is-losing-the-battle-for-influence-in-africa Diakses 4 Jan. 2018.

Ighobor, K. (2013). China in the heart of Africa | Africa Renewal Online. online Un.org. Available at: http://www.un.org/africarenewal/magazine/january-2013/china-heart-africa Diakses 7 Jan. 2018.

Ilunga, Y. (2015). America and China’s competition for influence in Africa. online World Economic Forum. Available at: https://www.weforum.org/agenda/2015/02/america-and-chinas-competition-for-influence-in-africa/ Diakses 4 Jan. 2018.

Keohane, R. (1984). After Hegemony. New Jersey: Princeton University Press.

Kuo, F. (2016). What China Knows about Africa That the West Doesn’t. online The National Interest. Available at: http://nationalinterest.org/feature/what-china-knows-about-africa-the-west-doesnt-16295 Diakses 4 Jan. 2018.

Lawson, L. (2007). U.S. Africa Policy Since the Cold War. Strategic Insights. California: Calhoun: The NPS Institutional Archive DSpace Repository.

Lilley, K. and Sparrow, S. (2016). How has Barack Obama impacted U.S.-Africa relations?. online Newsweek. Available at: http://www.newsweek.com/obamas-commercial-diplomacy-africa-455435 Diakses 4 Jan. 2018.

Onishi, N. (2015). China Pledges $60 Billion to Aid Africa’s Development. online Nytimes.com. Available at: https://www.nytimes.com/2015/12/05/world/africa/china-pledges-60-billion-to-aid-africas-development.html Diakses 4 Jan. 2018.

Selton, G. and Paruk, F. (2008). The Forum on China-Africa Cooperation: A Strategic Opportunity. Institute for Security Studies

 

 

1. Penelitian yang dilakukan oleh Francois Joseph (2013), Francisco Urdinez, Fernando Mouron, dan rekan-rekannya (2016)  sepakat bahwa AS mulai terkikis kekuatan ekonominya sejak munculnya Cina sebagai pemodal baru dalam perekonomian internasional namun menyatakan bahwa AS tetap menjadi hegemon dalam ekonomi politik global meski bukan hegemon tunggal.