PENDAHULUAN dari setiap penggunaan plastik. Ini yang menjadi

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang Masalah

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

                Sampah plastik merupakan salah satu permasalahan
lingkungan hidup yang cukup serius di Indonesia. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,
sampah plastik dari 100 gerai/toko anggota Aprindo selama setahun menghasilkan
10,95 juta lembar sampah kantong plastik. Ini berarti sama dengan sekitar 65,7
Ha kantong plastik atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola. Sedangkan
menurut Indonesia Solid Waste Association (InSWA), produksi sampah plastik
Indonesia sekitar 5,4 juta ton per tahun. Sementara berdasarkan data dari BPLHD
DKI Jakarta menyebutkan sekitar 13persen dari sampah di Jakarta (6.000 ton per
hari) adalah sampah plastik.

Dapat dibayangkan, dari jumlah sampah plastik tersebut,
bagaimana sampah tersebut mencemari dan merusak tatanan kehidupan laut, darat
dan udara serta bagaimana sampah tersebut secara sistimatis membunuh flora dan
fauna di daerah yang dicemarinya. Melihat kritisnya permasalahan ini, Aprindo
mengeluarkan suatu kebijakan untuk melakukan uji coba penerapan kantong plastik
berbayar pada gerai anggota yang ada di 22 daerah kabupaten kota beserta 1 provinsi.  Konsep pemikiran ini adalah untuk menekan
para konsumen menggunakan kantong plastik sehingga limbah kantong plastik dapat
dikurangi secara bertahap.

Selama
kurang lebih delapan bulan kebijakan kantong plastik berbayar ini telah
berjalan tanpa adanya suatu pengawasan. Kritikan dari berbagai pihak muncul
dengan menekankan sistim pengelolaan keuangan ini tidak transparan dan tidak
jelas uang tersebut disalurkan kemana. “Masalahnya siapa yang mengawasi dana yang
ditarik oleh minimarket dari setiap penggunaan plastik. Ini yang menjadi
penting,” kata Wakil Wali Kota Bogor, Usmar Hariman pada salah satu media online.

1.2    
Rumusan Masalah

             Bagaimana hubungan antara produsen
dan konsumen dalam permasalahan kantong plastik berbayar?

1.3    
Tujuan

             Mengetahui hubungan
antara produsen dan konsumen sehingga dapat ditentukan pihak mana saja yang
dirugikan dan diuntungkan dalam permasalahan kantong plastik berbayar.

II

ISI

Pemberian
kantong plastik sebagai kemasan seluruh barang yang dibeli adalah merupakan
kebijakan produsen, yaitu anggota Aprindo
dalam menghargai konsumen sebagai orang yang bermartabat. Kantong plastik
merupakan barang ikutan kepada konsumen, yang pemberiannya tidak dibebankan
biaya.

           

            Pelayanan yang sedemikian ini berjalan terus menerus
hingga puluhan bahkan ratusan tahun lamanya. Lalu suatu momen menyadarkan kita,
bahwa yang dilakukan selama ini telah menimbulkan dampak bagi lingkungan
sekitar dimana kantong plastik yang merupakan barang ikutan itu telah menimbun
sungai, tepian pantai bahkan daratan yang pada akhirnya menimbulkan berbagai
macam penyakit yang mematikan.

           

            Miris, konsumen yang pada awalnya dihargai sebagai
orang yang bermartabat, oleh produsen atau supplier kini menudingnya sebagai
pihak yang bertanggung jawab dalam krisis sampah plastik ini. Karenanya, pihak Aprindo tidak ragu untuk membebankan biaya kepada konsumen
atas penyediaan layanan primanya dengan menarik dana Rp. 200 pada setiap
penggunaan satu buah kantong plastik (kresek). Padahal konsumen seharusnya
tetaplah jadi konsumen, dan bukan pihak yang dituding sebagai orang pertama dalam
mata rantai penyebaran kantong plastik tersebut. Konsumen tidak menyadari
adanya dampak di kemudian hari dari barang ikutan pada belanjaannya.

 

Terjadinya
hubungan produsen dengan konsumen adalah sebagai akibat adanya pertemuan antara
permintaan dan penawaran.  Meskipun dilakukan atas transaksi suka sama
suka, namun pada kedua sisi memiliki prinsip yang berbeda. Konsumen dalam
membeli sesuatu barang adalah disebabkan untuk memenuhi kebutuhan, sedangkan
produsen menjual barangnya adalah dikarenakan adanya keuntungan yang diharapkan
dalam transaksi tersebut. Karenanya, dalam hal adanya dampak yang timbul dari
suatu barang yang dibeli termasuk kemasan plastik sebagai barang ikutannya,
adalah menjadi bagian dari tanggung jawab produsen/supplier. Konsumen adalah
korban dari kebijakan layanan primanya.

III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

       Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa  penulis adalah salah satu kelompok yang menolak
kebijakan ini karena hal tersebut tidak menggambarkan secara jelas bagaimana
program tersebut mampu mengatasi atau setidaknya mengurangi limbah sampah
plastik. Aprindo dalam hal ini, tidak mau
disebut sebagai biang penyumbang sampah kantong plastik yang menimbun dan tidak mau pusing dengan keseluruhan limbah plastiknya. Aprindo bahkan
telah mengeluarkan kebijakan kantong plastik berbayar sebesar Rp.
200 yang tentunya merugikan
masyarakat sebagai konsumen. Oleh sebab itu, kebjikan kantong plastik berbayar
haruslah ditolak.

3.2    Saran dan Solusi

       Sebagai pihak yang menolak kebijakan kantong plastik
berbayar ini, penulis memberikan saran sebaiknya kebijakan ini segera diperbaiki.
Adapun solusi untuk mengatasi permasalahan ini antara lain:

Pemerintah
dapat membuat Undang Undang tentang “diet kantong plastik”.Anggota
Aprindo dapat
mengganti kemasan kantong plastik dari bahan yang ramah lingkungan dan mudah
terurai (biodegradable).Masyarakat
saat berbelanja dapat mengganti penggunaan kantong plastik dengan ecobag.