Di Seiring berjalannya waktu, para ilmuwan dari

Di
zaman modern ini, kita tidak akan bisa luput dari yang namanya teknologi.
Teknologi sudah menjadi bagian dari hidup kita, bahkan sudah menjadi sesuatu
yang harus kita miliki seperti pangan dan sandang. Seiring berjalannya waktu,
para ilmuwan dari berbagai Negara berlomba-lomba untuk menciptakan
terobosan-terobosan baru yang dapat mengubah dunia, salah satu dari trobosan
itu adalah mobil tanpa awak/auto-pilot
cars. Terobosan ini pun mengguncangkan dunia, yang semula harus menyetir
dengan tangan kita sendiri, di masa depan kita hanya perlu menekan tombol di
mobil tersebut dan mobil sudah bisa jalan dan memarkir dirinya sendiri. Namun,
apakah terobosan ini akan diterima oleh masyarakat Indonesia?. Berdasarkan hal
tersebut, tujuan dari artikel ini adalah membahas bagaimana perihal moral dan
etika tentang terobosan tersebut dan pantas atau tidaknya jika diterapkan di
Indonesia.

Mobil
tanpa awak adalah mobil yang memiliki sensor yang dapat mendeteksi jalan,
benda, orang-orang di sekitarnya dan dapat berputar 180 derajat sehingga bisa
mendeteksi benda apapun dari mana saja. Hal ini tentunya menjadi salah satu
faktor menguntungkan dari mobil tanpa awak tersebut, dan mungkin menjadi salah
satu alasan agar konsep tersebut dapat diterapkan di Indonesia. Berbagai mobil
tanpa awak pun sudah dikeluarkan dan siap diproduksi, contohnya Lexus SUV,
Toyota Pirus, dan Tesla model S yang sudah diujicoba dengan berbagai kondisi
jalan. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Indonesia
merupakan Negara yang luas dengan berbagai masyarakat di dalamnya. Hal ini
membuat banyak pro dan kontra terhadap teknologi tersebut. Untuk manfaat
tersebut, salah satu contohnya adalah membantu dan mempermudah masyarakat.
Teknologi tersebut dapat membantu para lansia yang kondisi fisiknya sudah tidak
memungkinkan mereka untuk menyetir lagi, dapat membantu para karyawan yang
lelah karena pulang kerja dan tidak dapat fokus dalam perjalanan sehingga dengan
adanya sensor pada mobil tersebut, pengendara dapat merasa aman dan kecelakaan
pun dapat dihindari.

Dibalik
setiap manfaat pasti ada kekurangan, disinilah moral dan etika kita terletak.
Kita sebagai manusia tentunya tidak lepas dari sifat egois dan sombong. Kita
ambil contoh, di saat kemacetan orang yang memiliki mobil ini akan berlagak
seenaknya karena dia merasa hebat telah memiliki ini, hal ini sangat tidak
sesuai dengan etika berkendara. Terlebih lagi adanya ancaman kecelakaan, karena
kita tahu bahwa sensor pada mobil tersebut tidak akan bisa menjamin keselamatan
kita sepenuhnya, karena pada dasarnya sensor tersebut merupakan mesin yang ada
kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal pada seluruh system mobil tersebut.
Seperti yang dilansir oleh KompasTekno dari
TheVerge, selasa (3 Maret 2016) bahwa
telah terjadi kecelakaan pertama antara mobil tanpa awak bermerek “Lexus”
dengan sebuah bus di California dikarenakan adanya kesalahan perhitungan oleh
sistem sensor tersebut. Dalam enam tahun terakhir, sudah terjadi sebelas
kecelakaan mobil tanpa awak ini (“Mobil Tanpa Sopir Google Alami 11 Kecelakaan,
n.d.).

Dalam
membahas kekurangannya pun, kita tidak bisa lepas dari sarana dan prasarana
yang ada di Indonesia seperti di Jakarta. Belakangan ini, ojek online dan taksi
online marak di kalangan masyarakat dikarenakan cepat dan mudah untuk
bepergian. Lalu, bagaimana jika Indonesia menerapkan teknologi ini layaknya
Dubai yang berencana untuk mengganti sarana transportasi dengan mobil tanpa
awak (“Dubai Luncurkan Mobil Pintar Tanpa Sopir, 2016). Hal itu akan sulit
diterapkan, mengingat bahwa ojek online dan taksi online tersebut berkontribusi
terhadap pengurangan pengangguran di Indonesia. Coba kita posisikan diri
sebagai sopir taksi online tersebut, apakah kita akan terima jika kita
kehilangan pekerjaan karena kemajuan teknologi ini?. Kemunculan transportasi
online tersebut saja sudah memulai perang antara sopir online dengan sopir
angkutan umum, bukan lah mustahil bahwa sopir online dan sopir angkutan umum akan
bekerja sama untuk menolak teknologi ini.

Teknologi ini
hanyalah salah satu terobosan yang dapat memajukan dunia, namun kita harus
memikirkan dampak yang disebabkan dan cocokkah dengan masyarakat kita. Jika
teknologi ini ingin diterapkan di Indonesia, perlu adanya komunikasi yang jelas
antara pemerintah dengan masyarakat agar tidak terjadi konflik, dan diperlukan
juga penetapan peraturan baru yang mengatur mobil tanpa awak tersebut. Pada
akhirnya, kita tidak bisa egois dalam berpikir teknologi ini benar-benar
dibutuhkan, jika pun benar diterapkan, kita hanya perlu berharap agar
pemerintah dapat memberikan solusi yang tepat untuk menghadapi oposisi terhadap
teknologi ini.