Cerpen dapat dibagi dalam tiga kelompk, yakni cerita

Cerpen atau cerita pendek merupakan salah satu bentuk prosa naratif fiktif. Isi cerita dalam cerpen cenderung singkat, padat, dan langsung pada tujuan. Konflik didalamnya pun cenderung lebih ringan dibanding dengan novel atau novelet.Pengertian cerita pendek (cerpen) telah banyak dibuat dan dikemukakan oleh pakar sastra, dan sastrawan. Jelas tidak mudah membuat definisi mengenai cerpen. Meski demikian, berikut akan dipaparkan pengertian cerita pendek yang diungkapkan oleh para ahli sastra dan sastrawan terkemuka. Sumardjo dan Saini K.M. (1994:30) mendefinisikan cerpen berdasarkan makna katanya, yaitu cerita berbentuk prosas yang relative pendek. Kata “pendek” dalam batasan ini tidak jelas ukurannya. Ukuran pendek di sini diartikan sebagai: dapat dibaca sekali duduk dalam waktu kurang dari satu jam. Dikatakan pendek juga karena genre ini hanya mempunyai efek tunggal,karakter,plot dan”setting” yang terbatas, tidak beragam dan tidak kompleks. Sedangkan Rahmanto dan Hariyanto (1998:126) mengemukakan bahwa ciri khas dalam suatu cerpen bukan menyangkut panjang pendeknya tuturan, berapa jumlah kata dan halaman untuk mewujudkannya, tetapi terlebih pada lingkup permasalahan yang ingin disampaikannya.Lebih lanjut Rahmanto dan Hariyanto (1998: 129) menegaskan bahwa suatu karya sastra dapat digolongkan ke dalam bentuk cerpen apabila kisahan dalam cerpen tersebut memberikan kesan tunggal yang dominan, memusatkan diri pada satu tokoh atau beberapa orang tokoh dalam satu situasi, dan pada satu saat. Kriterianya bukan berdasarkan panjang pendeknya halaman yang dipergunakan, tetapi lebih pada peristiwa yang tunggal, dan diarahkan pada peristiwa yang tunggal itu.Menurut Sumardjo dan Saini K.M (1994:30) cerita pendek dapat dibagi dalam tiga kelompk, yakni cerita pendek, cerita pendek yang panjang (long short story), cerita pendek yang pendek (short-short story). Sumardjo dan Saini K.M(1994:31) juga berpendapat bahwa apapun istilahnya, ciri hakiki cerpen adalah tujuan untuk memberikan gambaran yang tajam dan jelas, dalam bentuk yang tunggal, utuh,dan mencapai efek tunggal pula pada pembacanya. Sumardjo dan Saini K.M (1994: 36-37) meninjau pengertian cerpen berdasarkan sifat rekaan (‘fiction’) dan sifat naratif atau penceritaan. Dilihat dari sifat rekaan (‘fiction’), cerpen bukan penuturan kejadian yang pernah terjadi, berdasarkan kenyataan kejadian yang sebenarnya, tetapi murni ciptaan saja yang direka oleh pengarangnya. Meskipun demikian, cerpen ditulis berdasarkan kenyataan kehidupan.Dalam membaca cerpen, pembaca tidak sekedar membaca kisah lamunan, tetapi dapat menghayati pengalaman dari cerita yang disajikan serta ikut mengalami peristiwa-peristiwa, perbuatan-perbuatan, pikiran dan perasaan, keputusan-keputusan, dan dilema-dilema yang tampak dalam cerita. Sementara itu dilihat dari sifat naratif atau penceritaan, cerpen bukanlah deskripsi atau argumentasi dan analisis tentang sesuatu hal, tetapi ia merupakan cerita. Untuk memahami isi cerpen, pembaca perlu melakukan kajian atau analisis terhadap cerpen tersebut. Dalam mengkaji atau menganalisis cerpen, ada beberapa pendekatan yang dapat kita gunakan salah satunya adalah pendekatan struktural. Pendekatan struktural dipelopori oleh kaum Formalis Rusia dan Stukturalisme Praha. Struktural sendiri terbagi menjadi tiga jenis, yaitu strukturalisme formalis, strukturalisme genetik dan stukturalisme dinamik. Struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secar bersama membentuk kebulatan yang indah (Abrams,1961:68 dalam Nurgiyantoro, 2007:36). Menurut Luxemburg (1992:38) Pengertian stuktur pada pokoknya berarti, bahwa sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi suatu keseluruhan karena ada relasi timbal balik antara bagian-bagiannya dan antara bagian dan keseluruhan. Hubungan itu tidak hanya bersifat positif, seperti kemiripan dan keselarasan, melainkan juga negatif, seperti misalnya pertentangan dan konflik.Analisis yang akan penulis gunakan adalah menggunakan pendekatan strukturalisme genetic, dimana penulis selain mengkaji unsur intrinsiknya kami juga mengkaji unsur ekstrinsiknya. Menurut seorang ahli bernama Goldmann.Strukturalisme genetik merupakan pendekatan sastra yang bergerak dari teks sebagai focus yang otonom menuju factor-faktor yang bersifat ekstrinsik di luar teks, yaitu penulis sebagai subjek kolektif suatu masyarakat.Strukturalisme genetik berpandangan bahwa sastra merupakan fenomena zaman, sastra adalah refleksi kehidupan pengarang pada masanya, sastra adalah produk eskternal yang dipengaruhi oleh latar belakang sejarah dan sosial tertentu.”Nalea” merupakan cerpen karya Sungging Raga. Dalam karyanya itu, Raga mengingatkan kita akan kehidupan anak-anak jalanan yang banyak terjadi di ibu kota. Penulis akanmengkaji cerpen tersebut menggunakan pendekatan strukturalisme genetik. Dari tulisan ini yang menjadi masalah, yaitu bagaimana analisis strukturalisme genetic cerpen “Nalea” karya Sungging Raga? B.Landasan Teori Pendekatan strukturalime genetik dicetuskan oleh Lucien Goldmann, seorang ahli sastra Prancis. Pendekatan ini merupakan satu-satunya pendekatan yang mampu merekonstruksi pandangandunia pengarang. Pendekatan ini tidak seperti pendekatan Marxisme yang cenderung positivistik dan mengabaikan literasi sebuah karya sastra. Goldmann berpijak pada strukturalisme karena ia menggunakan prinsip struktural yang dinafikan oleh pendekatan Marxisme. Hanya saja, kelemahan pendekatan strukturalisme diperbaiki dengan memasukkan faktor genetik dalam memahami karyasastra.(Pradopo, 2002:60)Metode kritik sastra Goldmann disebut Strukturalisme Genetik (dalam Teeuw, 2003). Istilahstrukturalisme dipakai karena ia lebih tertarik pada struktur kategori yang ada dalam suatu dunia visi dan kurang tertarik pada isinya. Sementara, istilah genetik dipakai karena ia sangat tertarik untuk memahami bagaimana struktur mental tersebut diproduksi secara historis. Dengan kata lain,Goldmannmemusatkan perhatian pada hubungan antara suatu visi dunia dengan kondisi historis yang memunculkannya. Kemudian oleh pengarang, analisis visi pandangan dunia dapat dibandingkan dengan data dan analisis sosial masyarakat. Untuk menopang teorinya Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling berkaitan, sehingga membentuk sesuatu yang disebut strukturalisme genetik. Goldmann memercayai bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur. Struktur tersebut bukan sesuatu yang statis, melainkan produk dari proses sejarah yang terus mengalami perubahan,proses strukturasi dan destrukturasi yang ada dihayati masyarakat asal karya sastra yang bersangkutan.?Pada prinsipnya, Strukturalisme Genetik berkeyakinan bahwa karya sastra tidak semata-mata merupakan suatu struktur yang statis dan lahir dengan sendirinya. Karya sastra merupakan hasil strukturasi kategori pikiran subjek penciptanya atau subjek kolektif tertentu yang terbangun akibat interaksi antara subjek dengan situasi sosial dan ekonomi tertentu. Maka dari itu, pemahaman mengenai struktur karya sastra, bagi strukturalisme genetik, tidak mungkin dilakukan tanpa pertimbangan faktor sosial yang melahirkannya. Faktor itulah yang memberikan kepaduan pada struktur. (Goldmann dalam Faruk, 1999b:13)Dalam beberapa analisis novel Goldmann selalu menekankan latar belakang sejarah. Karya sastra, di samping memiliki unsur otonom juga tidak dapat lepas dari unsur ekstrinsik. Teks sastra sekaligus mempresentasikan kenyataan sejarah yang mengondisikan munculnya karya sastra. Studi Strukturalisme Genetik memiliki dua kerangka besar (Goldmann dalam Endraswara, 2003:55–56).Pertama, hubungan makna suatu unsur dengan unsur lainnya dalam suatu karya sastra yang sama. Kedua, hubungan tersebut membentuk suatu jaring yang mengikat. Karena itu, seorang pengarang tidak mungkin mempunyai pandangan sendiri. Pengarang pada dasarnya akanmenyarankan suatu pandangan dunia yang kolektif. Pandangan tersebut juga bukan realitas, melainkan sebuah refleksi yang diungkapkan secara imajinatif.Sebagai sebuah teori, Strukturalisme Genetik merupakan sebuah pernyataan sahih mengenai kenyataan. Sebuah pernyataan dapat dianggap sahih bila di dalamnya terkandung gambaran mengenai tata kehidupan yang bersistem dan terpadu yang memiliki landasan ontologis berupa kodrat keberadaan kenyataan, dan memiliki landasan epistemologis berupa seperangkat gagasan yang sistematis mengenai cara memahami dan mengetahui kenyataan yang bersangkutan. Ada enam konsep dasar yang membangun teori Strukturalisme Genetik, yaitu fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman, dan penjelasan (Faruk, 1999b:12).Menurut Endraswara (2003), penelitian strukturalisme genetik memandang karya sastra dari dua sudut, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Studi diawali kajian unsur intrinsik (kesatuan dan koherensi) sebagai data dasar. Selanjutnya, penelitian menghubungkan berbagai unsur dengan relitas masyarakat.Karya dipandang sebagai refleksi zaman yang dapat mengungkapkan aspek sosial, budaya, politik, ekonomi, dsb.Peristiwa penting dari zamannya akan dihubungkan langsung dengan unsur intrinsic karya sastra (Endraswara, 2003:56). Hal senada juga diungkapkan Jabrohim (2001), bahwa penelitian strukturalisme genetik memandang karya sastra dari dua sudut yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Pendekatan ini mempunyai segi yang bermanfaat dan berdaya guna tinggi jika para peneliti tidak melupakan atau tetap memerhatikan segi intrinsik yang membangun karya sastra, di samping memerhatikan faktor sosiologis, serta menyadari sepenuhnya bahwa karya sastra itu diciptakan oleh suatu kreativitas dengan memanfaatkan faktor imajinasi (Jabrohim, 2001:82).Strukturalisme genetik secara sederhana dapat diformulasikan dalam tiga langkah. Pertama, peneliti bermula dari kajian unsur intrinsik, baik secara parsial maupun dalam jalinan keseluruhan.Kedua, mengkaji kehidupan sosial budaya pengarang, karena pengarang merupakan bagian dari komunitas tertentu. Ketiga, mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang turut mengondisikan karya sastra saat diciptakan pengarang (Endraswara, 2003:62). Strukturalisme genetik merupakan embrio penelitian sastra dari aspek sosial yang kelak disebut sosiologi sastra. Hanya saja, srukturalisme genetik tetap mengedepankan juga aspek struktur. Baik struktur dalam maupun struktur luar tetap dianggap penting bagi pemahaman karya sastra. Menurut Endraswara (2003:60), yang terpenting dari kajian strukturalisme genetik adalah karya sastra yang mampu mengungkapkan fakta kemanusiaan. Fakta ini mempunyai unsur yang bermakna, karena merupakan pantulan respon subjek kolektif dan individual dalam masyarakat. Subjek tersebut selalu berinteraksi dalam masyarakat untuk melangsungkan hidupnya.